Obrolanbola.org, Jakarta – Liverpool memulai musim 2025/2026 dengan optimisme tinggi dan ekspektasi yang menggunung. Setelah menutup musim 2024/2025 dengan gelar juara Liga Inggris secara meyakinkan, The Reds dipandang sebagai kandidat terkuat untuk kembali mempertahankan supremasi di Premier League. Bursa transfer yang agresif, kedalaman skuad yang meningkat, serta tren performa yang stabil membuat banyak pihak percaya bahwa Liverpool akan kembali tampil dominan.
Namun, realitas di lapangan justru menunjukkan cerita yang jauh berbeda. Setelah awal musim yang nyaris sempurna, performa Liverpool terjun bebas dalam waktu singkat. Dari tim yang duduk nyaman di puncak klasemen, mereka kini terdampar di papan tengah dan dibayangi hasil-hasil mengecewakan. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai arah perjalanan musim 2025/2026, sekaligus mengundang analisis mendalam tentang apa yang sebenarnya terjadi di tubuh The Reds.
Awal Musim Sempurna yang Berubah Menjadi Krisis
Pada bulan Agustus 2025, Liverpool tampil seperti tim juara yang siap melanjutkan dominasi. Mereka baru saja mengamankan gelar Premier League musim sebelumnya dengan cara yang meyakinkan, dan langkah di bursa transfer mempertegas ambisi klub. Manajemen mendatangkan sejumlah talenta elit Eropa untuk memperkaya opsi taktik dan menambah kualitas di setiap lini.
Start musim 2025/2026 berjalan hampir tanpa cela. Setelah kemenangan gemilang di Derby Merseyside melawan Everton pada 20 September, Liverpool memuncaki klasemen dengan 15 poin dari lima kemenangan beruntun. Di atas kertas, jalur mereka menuju pertahanan gelar tampak mulus.
Namun, hanya dalam kurun waktu sekitar dua bulan, segalanya berubah drastis. Liverpool merosot ke peringkat delapan klasemen dengan hanya mengoleksi 18 poin. Lebih mengkhawatirkan lagi, mereka menelan lima kekalahan dari enam laga liga terakhir. Penurunan performa yang sangat tajam ini bukan hanya mengejutkan suporter, tetapi juga memunculkan tanda tanya besar di kalangan analis sepak bola.
Padahal, pada lima laga pertama, meski permainan belum selalu sempurna, hasil yang diperoleh masih sangat positif. Hampir tidak ada yang memprediksi bahwa setelah periode awal yang menjanjikan, Liverpool akan masuk ke dalam spiral negatif seperti ini. Untuk memahami sumber masalah, perlu dilihat lebih jauh dari sekadar skor pertandingan.
Dampak Emosional Tragedi Diogo Jota
Salah satu faktor penting yang tak boleh dilupakan dalam menilai performa Liverpool musim ini adalah tragedi meninggalnya Diogo Jota pada awal Juli. Kepergian Jota tidak hanya meninggalkan lubang besar di sisi teknis permainan, tetapi juga luka mendalam pada aspek emosional dan psikologis tim.
Bagi rekan setimnya, Jota bukan sekadar penyerang yang tajam dan pekerja keras. Ia adalah sahabat, rekan seperjuangan, dan bagian dari inti skuad yang membawa Liverpool meraih gelar musim lalu. Ikatan personal inilah yang kemudian menjadikan kehilangan tersebut sebagai pukulan berat yang sulit diobati dalam waktu singkat.
Andy Robertson, salah satu pemimpin di ruang ganti, sempat mengungkapkan betapa besarnya beban emosional yang ia rasakan. Usai mengantar Skotlandia lolos ke Piala Dunia, ia menyebut bahwa sepanjang hari pertandingan, pikirannya terus tertuju pada sosok Jota. Mereka kerap berdiskusi tentang peluang tampil di Piala Dunia, sesuatu yang kini tak lagi dapat terwujud bersama.
Jika di level tim nasional saja beban psikologis itu begitu terasa, maka dapat dibayangkan bagaimana suasana hati dan pikiran para pemain ketika kembali ke lingkungan klub. Setiap kali melangkah ke lapangan, mereka seolah diingatkan bahwa ada satu sosok penting yang kini telah tiada.
Dalam olahraga elite, faktor mental sering menjadi pembeda tipis antara kemenangan dan kekalahan. Kehilangan figur seperti Jota menjadi pukulan psikologis yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Penurunan fokus, hilangnya ketenangan pada momen krusial, hingga turunnya kepercayaan diri bisa menjadi konsekuensi logis dari duka yang belum benar-benar pulih.
Jadwal Berat, Kekalahan Beruntun, dan Krisis Kepercayaan Diri
Di luar faktor emosional, jadwal pertandingan yang berat juga berkontribusi pada krisis yang dialami Liverpool. Dalam 11 laga awal liga, hanya Burnley yang berasal dari zona enam terbawah klasemen. Selebihnya, The Reds harus berhadapan dengan tim-tim yang berada di papan atas atau tengah dengan performa yang relatif stabil.
Liverpool bahkan sudah menghadapi tujuh dari sembilan tim lain yang kini berada di posisi 10 besar klasemen. Rangkaian laga berat dalam tempo singkat ini membuat margin kesalahan menjadi sangat kecil. Setiap kelengahan langsung dibayar mahal dengan hasil negatif.
Kekalahan 0-3 dari Manchester City sebelum jeda internasional menjadi titik yang memperkuat narasi krisis. Bukan hanya karena selisih skor yang besar, tetapi juga karena City adalah rival langsung dalam perburuan gelar. Kekalahan tersebut seolah mengirim pesan bahwa Liverpool sedang kehilangan taji dalam duel besar.
Padahal, hanya beberapa hari sebelumnya Liverpool masih mampu mengalahkan Aston Villa yang sedang dalam bentuk terbaik, serta mengamankan kemenangan 1-0 atas Real Madrid di Liga Champions. Inkonsistensi inilah yang membuat banyak pihak mulai mempertanyakan fondasi permainan mereka.
Meski jadwal memang tidak bersahabat, lima kekalahan dalam 11 laga tetap menjadi alarm serius. Sebagai perbandingan, musim lalu mereka hanya menelan empat kekalahan sepanjang musim, dan dua di antaranya terjadi setelah gelar juara sudah dipastikan. Penurunan ini menunjukkan bahwa ada persoalan mendasar yang tidak hanya berkaitan dengan kualitas lawan.
Arne Slot di Bawah Sorotan: Taktik dan Komposisi Lini Tengah
Dalam situasi seperti ini, sorotan publik dan media secara alami mengarah kepada manajer. Arne Slot kini berada dalam tekanan yang semakin besar. Setiap keputusan taktik, pemilihan pemain, hingga pergantian saat pertandingan menjadi bahan perdebatan.
Salah satu pusat kritik adalah komposisi lini tengah. Trio Ryan Gravenberch, Alexis Mac Allister, dan Dominik Szoboszlai yang menjadi tulang punggung musim lalu, disebut-sebut sebagai kombinasi terbaik. Namun fakta bahwa mereka juga menjadi starter di empat dari lima kekalahan liga musim ini memunculkan tanda tanya tentang keseimbangan yang mereka tawarkan.
Banyak lawan yang berhasil mengeksploitasi celah di lini tengah Liverpool melalui bola-bola panjang dan serangan balik cepat. Di sisi lain, The Reds justru terlalu sering berada dalam posisi menguasai bola, tetapi kesulitan membongkar blok pertahanan rendah yang rapat.
Rata-rata penguasaan bola Liverpool di liga mencapai 60,7 persen, tertinggi di Premier League. Sekitar 78 persen waktu pertandingan, mereka menghadapi blok pertahanan medium atau rendah. Kondisi ini menuntut kreativitas, pergerakan tanpa bola yang cerdas, serta eksekusi akhir yang efisien.
Di sinilah peran Florian Wirtz diharapkan menjadi pembeda. Namun realitanya, adaptasi Wirtz di liga belum sepenuhnya mulus.
Florian Wirtz: Kreator yang Masih Mencari Ritme
Florian Wirtz direkrut dengan ekspektasi sebagai kreator utama yang mampu membuka pertahanan lawan yang bermain menunggu. Statistiknya di Liga Champions sejauh ini cukup menjanjikan. Ia mencatat 4,2 peluang open play per 90 menit dan 1,3 big chances per 90 menit, angka yang menunjukkan kapasitasnya sebagai playmaker berkualitas.
Namun di Premier League, catatan tersebut menurun signifikan. Wirtz hanya mampu menghasilkan sekitar 1,7 peluang open play per 90 menit dan 0,1 big chances per 90 menit, dengan angka expected assists sekitar 0,15 per laga. Penurunan ini dapat disebabkan oleh adaptasi dengan intensitas fisik liga, perbedaan gaya bermain lawan, serta tekanan besar yang melingkupi tim.
Dengan banderol sekitar 100 juta pound yang berpotensi meningkat hingga 116 juta pound, tekanan di pundak Wirtz sangat besar. Ia bukan hanya dinilai sebagai pemain baru, melainkan sebagai sosok yang diharapkan langsung memberikan dampak besar. Meski demikian, penampilan impresifnya bersama Timnas Jerman, termasuk dua assist saat menghadapi Slovakia, menjadi sinyal bahwa kapasitasnya masih sangat tinggi dan bisa meledak kapan saja.
Problem Penyelesaian Akhir: Isak, Ekitike, dan Turunnya Efektivitas Gol
Selain kreativitas, penyelesaian akhir menjadi salah satu problem utama Liverpool musim ini. Alexander Isak, yang didatangkan dengan reputasi sebagai striker klinis, belum benar-benar menemukan ritme. Masalah kebugaran, adaptasi taktik, serta minimnya kontinuitas menit bermain membuatnya kesulitan mencapai performa terbaik.
Padahal musim lalu bersama Newcastle, Isak mencatat rasio konversi tembakan non-penalti sekitar 26,4 persen. Angka ini jauh di atas rata-rata Liverpool musim ini yang hanya berada di sekitar 15,3 persen. Jika Isak berhasil kembali ke level tersebut, efektivitas lini serang Liverpool berpotensi meningkat signifikan.
Di sisi lain, Hugo Ekitike justru menjadi salah satu titik terang. Penyerang asal Prancis itu menjadi top skor klub di semua kompetisi dengan torehan enam gol. Ia menunjukkan fleksibilitas bermain sebagai striker tunggal maupun berdampingan dengan penyerang lain. Salah satu contoh terbaik adalah saat ia berduet dengan Isak dalam kemenangan 5-1 atas Eintracht Frankfurt di kompetisi Eropa.
Performa apik Ekitike juga berlanjut di level internasional. Bersama Timnas Prancis, ia sempat mencetak gol indah ke gawang Ukraina hasil kombinasi satu-dua yang memanjakan mata dengan Kylian Mbappé. Gol tersebut memperlihatkan kualitas teknik dan insting gol yang dimilikinya.
Namun secara kolektif, produktivitas gol Liverpool mengalami penurunan. Musim lalu, mereka rata-rata mencetak sekitar 2,3 gol per pertandingan di Premier League. Musim ini, angka tersebut merosot menjadi sekitar 1,6 gol per laga. Secara volume peluang, Liverpool sebenarnya masih produktif. Hanya Chelsea, Manchester City, dan Crystal Palace yang menciptakan big chances lebih banyak musim ini.
Masalah sebenarnya terletak pada konversi peluang. Tingkat konversi big chances turun dari sekitar 38,7 persen musim lalu menjadi hanya 27,3 persen musim ini. Artinya, terlalu banyak peluang emas yang terbuang sia-sia dan berujung pada hilangnya poin berharga.
Rapor Merah Lini Belakang dan Kebiasaan Tertinggal Lebih Dulu
Di lini belakang, Liverpool juga menghadapi penurunan kualitas. Mereka sudah kebobolan 17 gol di liga, angka yang membuat mereka berada di papan tengah dalam statistik jumlah tembakan tepat sasaran yang mengarah ke gawang sendiri.
Lebih mengkhawatirkan lagi, hanya Burnley dan West Ham yang memberikan big chances lebih banyak kepada lawan dibanding Liverpool. Total 29 big chances yang dibiarkan tercipta menjadi sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan. Musim lalu, The Reds termasuk dalam jajaran tim dengan jumlah big chances paling sedikit yang diberikan kepada lawan. Penurunan drastis ini menunjukkan masalah struktural yang perlu segera diperbaiki.
Kebiasaan tertinggal lebih dulu dalam pertandingan menambah berat beban mental tim. Dalam delapan dari 10 laga terakhir di semua kompetisi, Liverpool kebobolan gol pembuka. Di liga, mereka selalu menelan kekalahan ketika tertinggal lebih dulu. Pola ini menandakan bahwa mereka kesulitan melakukan respons cepat dan mengubah momentum setelah mengalami pukulan awal.
Dari sisi dominasi waktu memimpin, data juga menurun tajam. Musim ini, Liverpool hanya memimpin sekitar 24,1 persen durasi bermain, jauh turun dari 45,6 persen musim lalu. Sebaliknya, mereka lebih sering berada dalam posisi tertinggal, baik secara skor maupun mental.
Jadwal Lebih Ringan: Momentum Ideal untuk Kebangkitan
Di tengah semua kekhawatiran, masih ada celah optimisme bagi Liverpool. Secara historis, performa mereka musim lalu juga meningkat setelah melewati 11 laga pertama. Musim ini, mereka akan memasuki periode jadwal yang relatif lebih bersahabat.
Laga kandang melawan Nottingham Forest yang saat ini berada di posisi ke-19 dapat menjadi titik awal kebangkitan. Kemenangan meyakinkan pada laga ini tidak hanya penting dari sisi perolehan poin, tetapi juga untuk mengembalikan rasa percaya diri tim.
Dari lima laga berikutnya, hanya Sunderland yang berasal dari papan atas klasemen. Secara teoretis, ini adalah kesempatan emas bagi Arne Slot untuk memperbaiki tren negatif, merapikan struktur permainan, dan mengumpulkan poin beruntun. Jika periode ini dapat dimaksimalkan, narasi tentang krisis bisa perlahan bergeser menjadi cerita kebangkitan.
Secara taktik, Slot dituntut menemukan keseimbangan antara kontrol penguasaan bola dan proteksi pertahanan. Lini tengah perlu mendapat dukungan yang lebih baik dalam transisi, sementara lini depan harus kembali ke level efektivitas tinggi. Ketersediaan pemain seperti Wirtz, Isak, dan Ekitike memberikan variasi opsi serangan yang sangat kaya.
Tantangan Mental dan Misi Menyelamatkan Musim
Pada akhirnya, tantangan terbesar Liverpool bukan hanya soal skema permainan, melainkan soal mentalitas. Luka emosional akibat kehilangan Diogo Jota, tekanan publik yang terus menguat, serta tuntutan untuk selalu bersaing di level tertinggi menjadikan musim ini sebagai ujian besar bagi karakter tim.
Para pemain harus menemukan kembali ketenangan di tengah badai kritik. Arne Slot perlu memimpin ruang ganti dengan ketegasan dan kejelasan visi, sekaligus menjaga kepercayaan diri para pemain kunci. Jika kualitas individu dan kolektif yang dimiliki Liverpool bisa kembali dimaksimalkan, mereka masih memiliki peluang besar untuk membalikkan arah musim.
Musim 2025/2026 memang belum masuk fase akhir, tetapi waktu untuk bereksperimen sudah semakin sempit. Setiap laga kini terasa seperti final kecil yang menentukan apakah Liverpool akan tetap bersaing di papan atas, atau justru menutup musim dengan kekecewaan mendalam.
Saat ini, yang paling dibutuhkan Liverpool adalah respons. Respons terhadap tekanan, terhadap situasi sulit, dan terhadap keraguan yang datang dari berbagai arah. Jika mereka mampu bangkit, membenahi kelemahan, dan memanfaatkan jadwal yang lebih bersahabat, maka musim ini masih bisa diselamatkan.
Anfield telah berkali-kali menjadi saksi kebangkitan besar. Kini, giliran generasi Liverpool era Arne Slot yang harus menulis babak kebangkitan mereka sendiri, sebelum keterpurukan ini berubah menjadi penyesalan yang berkepanjangan.

One thought on “Liverpool Terpuruk: Saatnya Bangkit dan Menyelamatkan Musim 2025/2026”