Obrolanbola.org, Jakarta – Kepribadian tegas dan lugas Shin Tae-yong kembali disorot setelah Ricky Riskandi, mantan pendampingnya di Timnas Indonesia, membeberkan pengalaman langsung. Menurut Ricky, mereka yang “baperan” akan sulit bekerja lama bersama pelatih asal Korea Selatan itu—meski di saat yang sama, STY dikenal hangat dan humoris di luar sesi kerja.
Awal Pertemuan & Penugasan
Ricky Riskandi—saat itu bertugas di struktur PSSI—mendapat mandat khusus untuk menyambut kedatangan Shin Tae-yong pada 2020. Tugasnya meliputi penjemputan dari bandara, koordinasi akomodasi staf pelatih, hingga mengurus beragam administrasi non-teknis. Ricky menjadi figur pertama yang berinteraksi intens dengan STY saat masa adaptasi di Tanah Air.
“Saya bekerja bersama Shin Tae-yong pertama kali pada 2020, ketika beliau baru hadir sebagai pelatih Timnas Indonesia. Saya dan seorang rekan ditugaskan menjemput beliau,” ungkap Ricky dalam kanal YouTube Bicara Bola.
Reputasi STY & Harapan PSSI
Penugasan itu datang langsung dari Ratu Tisha, Sekretaris Jenderal PSSI saat itu. Sejak awal, federasi memahami nilai strategis kehadiran STY: rekam jejaknya bersama Taegeuk Warriors di Piala Dunia 2018—termasuk kemenangan bersejarah atas Jerman—membuat ekspektasi publik melonjak. Ricky pun menyadari bahwa standar kerja yang akan dibawa sang pelatih tak akan kompromi terhadap disiplin dan profesionalisme.
- Baca juga : PSSI Pers Resmi Gelar Mandiri Media Cup 2025: Ajang Persaudaraan dan Sportivitas Jurnalis
Gaya Komunikasi: Tegas tapi Humanis
Dalam keseharian, STY tampil easygoing dan humoris; namun saat menyangkut pekerjaan, ia sangat lugas. Bagi sebagian orang, gaya berbicara langsung tanpa basa-basi bisa terasa menekan. Inilah mengapa, menurut Ricky, “orang baperan” akan menghadapi kesulitan untuk bertahan.
- Tegas dalam instruksi: Bahasa singkat, jelas, dan berorientasi hasil.
- Kedekatan ala keluarga: Candaan ringan yang menjaga suasana, bak ayah ke anak.
- Konsisten: Standar kerja tak berubah, baik di sesi latihan maupun rapat internal.
Ricky menuturkan momen-momen ringan di lapangan—gestur kecil sambil tersenyum—yang menandakan keakraban ketimbang kemarahan. Kontras ini memperlihatkan keseimbangan antara ketegasan profesional dan kehangatan personal.
Tantangan Awal: Tanpa Penerjemah
Hari-hari pertama STY di Indonesia diwarnai tantangan bahasa. Belum ada penerjemah pribadi yang mendampingi, membuat koordinasi teknis dan administratif berjalan ekstra hati-hati. PSSI kemudian berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Korea Selatan untuk menghadirkan penerjemah; dari proses itu, muncul dua nama—salah satunya Jeje—yang kemudian membantu menjembatani komunikasi.
Peran Ricky sebagai Penghubung
Sebagai penghubung antara staf pelatih dan federasi, Ricky memastikan jalur komunikasi satu pintu. Setiap kebutuhan STY—mulai logistik, fasilitas latihan, hingga tata kelola dokumen—dirangkum dan diteruskan secara sistematis kepada PSSI. Skema ini mencegah tumpang tindih informasi dan mempercepat eksekusi kebijakan teknis.
Dari pengalaman itulah Ricky menyerap tiga pelajaran kunci: ketepatan waktu, ketelitian, dan komitmen. Ketiganya menjadi nilai yang menjadi benang merah dalam manajemen tim profesional versi STY.
Sisi Lain STY yang Jarang Tersorot
Di luar lapangan, STY kerap menunjukkan empati: menyapa staf lebih dulu, berbagi makanan, hingga memulai obrolan ringan yang meruntuhkan jarak hierarkis. Hal-hal kecil ini menumbuhkan kenyamanan emosional di lingkungan kerja yang ritmenya padat dan penuh tekanan.
Ketika masuk ke ranah strategi dan latihan, transformasi terjadi: bahasanya menjadi teknis, ritme cepat, dan checklist disiplin ditegakkan. Switch inilah yang membentuk kultur “serius saat kerja, hangat di luar sesi”—sebuah pola yang efektif menjaga fokus sekaligus kekompakan tim.
Warisan Budaya Kerja untuk Timnas
Terlepas dari akhir masa kerjanya di Timnas Indonesia, jejak yang ditinggalkan STY terasa dalam dua lapis: mentalitas kompetitif pemain dan kerangka operasional tim. Dari ketepatan jadwal hingga pemantauan beban latihan, standar baru menuntut semua elemen—pemain, pelatih, dan staf—untuk menyatu dalam target yang terukur.
Dalam jangka panjang, kombinasi disiplin dan komunikasi efektif yang dicontohkan STY dapat menjadi fondasi untuk regenerasi tim, sekaligus menutup celah-celah inkonsistensi yang sering menghambat progres sepak bola nasional.
Kesimpulan
Testimoni Ricky Riskandi memotret dua wajah Shin Tae-yong: sosok yang tegas saat bekerja dan hangat di luar sesi. Bagi mereka yang siap dengan komunikasi lugas dan standar tinggi, bekerja bersamanya menjadi bootcamp profesional yang membentuk karakter. Namun, bagi yang mudah tersinggung, irama kerja semacam ini berpotensi menguras energi dan menimbulkan hambatan kolaborasi.
