Hasil Imbang yang Menyulitkan Bianconeri
Pertandingan di Allianz Stadium berjalan dengan tempo tinggi sejak awal. Sporting Lisbon tampil percaya diri dan berani menekan melalui pola serangan balik cepat. Tekanan itu berbuah hasil ketika tim tamu mampu memanfaatkan celah di lini belakang Bianconeri untuk membuka keunggulan pada menit ke-22.
Juventus berusaha merespons dengan meningkatkan intensitas serangan. Kombinasi di sisi sayap dan tusukan dari lini kedua perlahan mulai mengganggu organisasi pertahanan Sporting. Upaya itu akhirnya membuahkan hasil ketika Dusan Vlahovic berhasil mencetak gol penyama kedudukan menjelang akhir babak pertama. Gol tersebut sempat membangkitkan optimisme publik tuan rumah.
Namun, alih-alih menjaga momentum positif, Juventus justru tampil kurang meyakinkan pada babak kedua. Struktur permainan menjadi kaku, aliran bola tersendat, dan koordinasi di lini depan melemah setelah intensitas tekanan menurun. Meskipun secara statistik Juventus unggul dalam penguasaan bola, mereka kesulitan menciptakan peluang emas yang benar-benar mengancam gawang Sporting Lisbon.
Hasil imbang ini membuat Juventus hanya mengoleksi tiga poin dari empat pertandingan fase grup. Bianconeri tertahan di papan bawah klasemen grup dan tertinggal cukup jauh dari dua tim teratas yang berpeluang besar merebut tiket otomatis ke babak 16 besar Liga Champions.
Dengan situasi seperti itu, setiap laga tersisa kini praktis berubah menjadi partai hidup-mati bagi Juventus. Tekanan besar mengarah kepada Luciano Spalletti untuk segera menemukan formula tepat agar tim tidak semakin terpuruk dan kehilangan peluang melanjutkan perjalanan di kompetisi paling bergengsi di Eropa tersebut.
Del Piero Soroti Keputusan Spalletti

Di tengah sorotan tajam terhadap performa Juventus, legenda klub Alessandro Del Piero mengungkapkan kebingungan dan kekecewaannya terhadap sejumlah keputusan taktis yang diambil Luciano Spalletti pada laga kontra Sporting Lisbon. Fokus kritiknya tertuju pada momen ketika Spalletti memutuskan menarik keluar Vlahovic di menit-menit akhir pertandingan.
Pada menit ke-83, Spalletti mengganti Vlahovic dengan gelandang muda Vasilije Adzic. Keputusan tersebut membuat Kenan Yildiz digeser menjadi penyerang tengah semu (false nine), meski ia bukan penyerang nomor 9 murni. Situasi menjadi kian disorot karena Jonathan David dan Loïs Openda – dua penyerang yang baru didatangkan dengan investasi besar – tidak segera diturunkan.
Baru empat menit kemudian Jonathan David dimasukkan ke lapangan. Namun, waktu yang tersisa terlalu singkat untuk memberikan dampak signifikan pada jalannya pertandingan. Openda bahkan sama sekali tidak memperoleh kesempatan tampil di laga krusial tersebut.
Del Piero menilai rangkaian keputusan tersebut sulit untuk dicerna, terutama jika melihat betapa besarnya kepercayaan finansial klub terhadap David dan Openda di bursa transfer.
“Saya agak kecewa dengan 15 menit terakhir. Vlahovic diganti, tetapi baik David maupun Openda tidak dimasukkan sejak awal,” ujar Del Piero kepada Sky Sport Italia melalui Football Italia.
“Spalletti menempatkan Yildiz di posisi penyerang, padahal ia bukan nomor 9 alami. Ia memutuskan memperkuat lini tengah tanpa memanfaatkan pemain yang diinvestasikan Juventus. Keputusan ini sulit saya pahami,” tegasnya.
Bagi Del Piero, laga melawan Sporting seharusnya menjadi momentum untuk memaksimalkan potensi lini serang, bukan justru memperlihatkan keraguan terhadap penyerang baru. Kritik itu sekaligus menjadi sinyal bahwa kesabaran para legenda klub terhadap pendekatan taktis Spalletti mulai menipis.
Krisis Kepercayaan dan Ketimpangan Strategi
Dalam empat pertandingan fase grup, Juventus hanya mampu mencetak jumlah gol yang tergolong minim untuk ukuran klub besar. Ketajaman lini depan yang naik-turun mengindikasikan adanya masalah struktural dalam sistem ofensif yang diterapkan Spalletti.
Di satu sisi, Spalletti mengusung filosofi permainan berbasis penguasaan bola dan kontrol ritme. Di sisi lain, karakteristik Jonathan David dan Loïs Openda lebih cenderung cocok dengan skema transisi cepat dan eksploitasi ruang di belakang garis pertahanan lawan. Perbedaan gaya inilah yang disebut sejumlah pengamat sebagai faktor utama kurang optimalnya peran dua penyerang tersebut.
Meski demikian, banyak analis menilai seorang pelatih di level klub elite Eropa dituntut untuk memiliki fleksibilitas taktik. Dalam situasi di mana tim membutuhkan gol, prioritas utama seharusnya adalah menambah daya gedor, bukan sekadar mempertahankan keseimbangan di lini tengah.
Analis sepak bola Italia menilai bahwa kehati-hatian Spalletti justru berbalik menjadi bumerang. Alih-alih mengirim sinyal agresif kepada lawan, keputusan menambah gelandang dianggap sebagai bentuk kurangnya keberanian mengambil risiko di fase akhir pertandingan yang krusial.
Peluang Juventus Lolos ke Babak Berikutnya
Dengan hanya tiga poin dari empat laga, peluang Juventus untuk melaju ke babak berikutnya berada dalam posisi sangat rapuh. Secara hitung-hitungan, Bianconeri diperkirakan membutuhkan setidaknya delapan hingga sembilan poin tambahan dari empat pertandingan tersisa jika ingin menjaga asa lolos, baik sebagai salah satu dua tim teratas maupun melalui jalur playoff.
Berikut jadwal sisa pertandingan Juventus di fase grup Liga Champions 2025/2026:
- 26 November 2025: Bodo/Glimt vs Juventus
- 11 Desember 2025: Juventus vs Pafos
- 22 Januari 2026: Benfica vs Juventus
- 29 Januari 2026: Juventus vs AS Monaco
Laga melawan Bodo/Glimt dan Pafos di atas kertas mungkin terlihat lebih bersahabat, namun performa tidak konsisten Juventus membuat tidak ada satu pun laga yang bisa dianggap mudah. Sementara itu, duel kontra Benfica dan AS Monaco diprediksi menjadi ujian berat, mengingat keduanya memiliki pengalaman panjang dan kualitas kompetitif tinggi di Liga Champions.
Jika Juventus kembali terpeleset, peluang untuk sekadar mengincar posisi playoff pun bisa menguap. Dengan demikian, setiap kesalahan kecil di sisa pertandingan dapat berujung fatal bagi ambisi klub mempertahankan reputasi di kancah Eropa.
Tekanan Kian Besar dari Publik dan Legenda Klub
Kritik terhadap Spalletti tidak hanya datang dari Del Piero. Sejumlah mantan pemain dan pengamat sepak bola Italia turut mempertanyakan konsistensi serta keberanian taktis sang pelatih. Mereka menyoroti kecenderungan Spalletti yang dinilai terlalu sering melakukan perubahan komposisi lini depan tanpa arah yang jelas.
Media lokal di Turin juga mulai menyorot keras performa Bianconeri di Liga Champions. Tajuk-tajuk utama di berbagai harian olahraga memuat pertanyaan apakah proyek baru Juventus di bawah Spalletti benar-benar berada di jalur yang tepat, terutama setelah investasi besar pada sektor ofensif belum memberikan dampak signifikan.
Di kalangan suporter, rasa frustrasi pun kian terasa. Banyak yang menilai bahwa Juventus seharusnya tampil lebih berani dan agresif, terlebih ketika bermain di kandang sendiri. Tidak sedikit pula yang mengingatkan manajemen agar segera mengevaluasi aspek teknis dan mental tim jika tren negatif ini berlanjut.
Harapan kepada Trio Vlahovic, David, dan Openda
Di tengah situasi sulit, harapan tetap bertumpu pada kemampuan Juventus untuk memaksimalkan potensi lini serang mereka. Trio Dusan Vlahovic, Jonathan David, dan Loïs Openda dinilai memiliki kualitas yang cukup untuk mengubah arah musim Bianconeri, asalkan bisa ditempatkan dalam skema permainan yang tepat.
Vlahovic dikenal sebagai target man dengan ketajaman di kotak penalti, sementara David dan Openda menawarkan mobilitas, kecepatan, dan kemampuan mengeksploitasi celah di antara lini pertahanan lawan. Jika ketiganya dapat dikombinasikan secara sinergis, Juventus berpotensi memiliki variasi serangan yang jauh lebih berbahaya.
Luciano Spalletti kini dituntut untuk mengelola kedalaman skuadnya dengan lebih cermat. Rotasi pemain, pemilihan starter, serta timing pergantian dalam pertandingan akan menjadi aspek krusial yang menentukan apakah Juventus bisa bangkit tepat waktu atau justru terjebak dalam lingkaran hasil mengecewakan.
Kesimpulan: Juventus di Persimpangan Jalan Eropa
Hasil imbang 1-1 melawan Sporting Lisbon bukan sekadar kehilangan dua poin penting, melainkan juga cerminan dari masalah yang lebih dalam di tubuh Juventus. Mulai dari ketidakefektifan lini serang, keputusan taktis yang dipertanyakan, hingga tekanan psikologis dari publik dan legenda klub, semuanya kini menyatu membentuk tantangan besar bagi Luciano Spalletti dan skuadnya.
Del Piero dan para mantan pemain lainnya mengingatkan bahwa Juventus adalah klub dengan tradisi dan mental juara. Oleh karena itu, Bianconeri dituntut untuk menunjukkan keberanian, kejelasan visi, dan determinasi tinggi di sisa fase grup Liga Champions 2025/2026.
Empat pertandingan tersisa akan menjadi penentu apakah Juventus mampu membalikkan keadaan dan kembali menegaskan statusnya sebagai salah satu kekuatan utama di Eropa, atau justru menambah satu lagi musim mengecewakan dalam catatan perjalanan mereka di Liga Champions.

One thought on “Del Piero Pertanyakan Keputusan Spalletti Abaikan Jonathan David dan Openda Saat Juventus Ditahan Sporting Lisbon”